Deposito Bank Syariah

Inflasi dan kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat kita harus pintar-pintar mengelola keuangan. Dalam Islam pun kita dituntut untuk mempersiapkan masa depan. Masih ingat kisah Nabi Yusuf saat menjadi bendaharawan Mesir? Beberapa orang memilih menabung, baik itu dinar dan dirham atau deposito bank syariah.

Sebagian lagi memilih memodali suatu usaha. Apapun itu, yang pasti investasi dan tabungan harus disisihkan di awal penerimaan gaji, bukan di akhirnya, setelah semua kebutuhan terpenuhi. Artinya investasi itu harus direncanakan, bukan disisakan. Agar di masa depan, saat membutuhkan dana darurat, tidak terjadi kepanikan dan penyesalan. 

Hasil gambar untuk Deposito Bank  Syariah, Cara Tepat Berinvestasi Di Pasar Uang

Menggabungkan elemen tabungan dan investasi pasar uang bisa kita lakukan dengan membuka deposito bank syariah. Keunggulannya, bebas riba hingga lebih barokah. Dalam deposito syariah, akad yang berlaku adalah akad musyarokah. Hasil atau return yang didapat disebut Nisbah atau bagi hasil. Besarnya sesuai negosiasi antara nasabah dan bank sebelum mengadakan akad. 

Dibandingkan investasi berbasis kaidah Islam lainnya, deposito bank syariah relatif lebih mudah dilakukan. Selain itu dengan akad syariah menjadikan nasabah lebih tenang dan harta yang didepositokan tidak terciprat riba sehingga lebih barokah. Bukankah kita juga ingin melindungi keluarga dari api neraka? 

Keunggulan deposito syariah di antaranya : 

  1. Deposito lebih terasa familiar bagi mereka yang tidak terlalu akrab dengan instrumen pasar uang dan modal. Seperti halnya tabungan harian, deposito adalah produk ‘biasa’ pada tiap bank, termasuk bank syariah. Kesan biasa ini membuat masyarakat awam lebih nyaman untuk berinvestasi. Lebih berani juga, karena merasa bahwa deposito tidak memakai mereka belajar dan menelaah istilah keuangan yang terkesan sulit.
  2. Bagi hasil bersaing, bahkan relatif lebih besar dibandingkan deposito bank konvensional. Di bank syariah bagi hasil deposito disandarkan pada asas keadilan dan kebermanfaatan bagi nasabah. Selain itu ada jaminan bahwa uang yang kita tanamkan tidak akan diinvestasikan pada perusahaan yang operasionalnya bertentangan dengan ajaran Islam. 
  3. Fleksibel dalam jangka waktu investasi dan setoran modal awal. Setoran awal deposito saat ini adalah dua juta rupiah. Namun ada juga yang menetapkan satu juta rupiah. Tenor pun bisa dipilih antara 1, 3, 6, dan 12 bulan. 
  4. Bagi hasil dapat diambil saat jatuh tempo dan dijadikan penghasilan pasif, sementara pokoknya didepositokan kembali. Atau yang lebih baik adalah menambahkan bagi hasil kepada pokok untuk didepositokan. Sehingga dalam waktu lima tahun ke depan bagi hasil yang didapat lebih besar. Inilah yang sebenarnya diharapkan ketika berinvestasi dengan instrumen deposito bank syariah. 
  5. Beberapa bank melengkapi deposito mereka dengan instrumen asuransi jiwa hingga manfaatnya jadi lebih lengkap. 
  6. Deposito syariah juga bisa digunakan sebagai jaminan pembiayaan konsumtif maupun produktif. Tentu saja tergantung besaran nominal dana di dalam deposito itu sendiri. 

Gambaran di atas semoga bisa membantu Anda untuk mempertimbangkan deposito bank syariah sebagai alat investasi. Selamat mencoba. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *